EKONOMPEDIA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan naik tipis menjadi 6.827 setelah tanggal 2-5 Mei 2023 IHSG tertekan 1,85%. Pergerakan IHSG dalam sepekan ke depan kemungkinan besar masih dipengaruhi oleh sentimen dari rilis data ekonomi domestik yang baru dirilis.
“PMI Manufaktur Indonesia yang masih tercatat dalam level ekspansif 52,7. Akselerasi produksi ditopang oleh solidnya permintaan dalam negeri di tengah menurunnya kinerja ekspor akibat potensi perlambatan ekonomi global,” kata Chisty dalam riset mingguan, dikutip Sabtu (6/5/2023).
“IHSG untuk pekan depan diproyeksikan bergerak menguat terbatas di level resistance terdekat, yakni pada level psikologis 6.800 untuk kemudian resistance selanjutnya pada level 6.827,” lanjutnya.
“Hal ini mengindikasikan perlambatan ekonomi Amerika Serikat pada 2023 ini akan terjadi di tengah pengetatan kebijakan moneter yang terus dilakukan oleh The Fed,” imbuh Chisty.
“Katalis negatif tersebut kami proyeksikan merupakan sentimen sesaat, dan bukan merupakan suatu konfirmasi fenomena Sell in May and Go Away benar akan terjadi. Pasalnya, sentimen dari data ekonomi dalam negeri sejauh ini masih sangat positif,” jelas Chisty.
Seiring dengan proyeksi dan analisis IHSG tersebut, Ajaib sekuritas merekomendasikan beberapa saham, yaitu:
AKRA (buy on weakness) di area Rp1.505 dengan target harga pada resistance di level Rp1.570 serta pertimbangkan cut loss apabila break support di level harga Rp1.495.
BBRI (buy) di area Rp5.225 dengan target harga pada resistance di level Rp5.300 serta pertimbangkan cut loss apabila break support di level harga Rp4.990.
BBCA (buy) di area Rp 8.950- Rp 9.000 dengan target harga pada resistance di level Rp 9.200 serta pertimbangkan cut loss apabila break support pada level harga Rp 8.700.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.